
Siapa yang tak kenal dengan si Naga Merah ini? Tahukah anda bahwa akan ada 300 juta orang Cina pedesaan pindah ke kota-kota di Cina dalam lima belas tahun mulai dari sekarang? Ini akan menjadi migrasi terbesar dalam sejarah manusia. Tahukah pula anda bahwa kini Cina telah menggeser Amerika sebagai konsumen terbesar dunia untuk berbagai produk pangan, komoditas industri, kehutanan, tambang, dan energi? Ya, raksasa yang sempat tertidur itu telah bangkit. Cina tumbuh cepat dan menantang dunia. Selama kurun 1985-2005, Produk Domestik Bruto (PDB) Cina tumbuh rata-rata 9,8%.
Label “Made in China” merajai pasar industri. Cina telah memproduksi pakaian, sepatu, dan mainan anak-anak lebih banyak daripada negara lain. Dalam bidang teknologi, negara itu juga telah menjelma produsen terbesar di dunia untuk barang-barang elektronik, menghasilkan lebih banyak TV, DVD player, dan telepon seluler daripada negara lain. Tak ada negara yang memainkan permainan ekonomi dunia lebih baik daripada Cina. Cina terus merangsek naik dan bergerak cepat sehingga menjadi ahli dalam biotek dan perakitan komputer. Cinalah yang membuat komponen Boeing 757 dan mengeksplorasi angkasa luar dengan roket buatan sendiri.
Di Shanghai, telah dibangun gedung-gedung perkantoran yang lebih luas daripada semua gedung perkantoran di New York City. Hingga tahun 2005, Shanghai telah memiliki 4.000 gedung pencakar langit, dua kali lipat dari jumlah yang ada di New York. Dan akan dibangun 1.000 pencakar langit lagi hingga akhir dekade ini. Richard Burdett, profesor arsitektur dan urbanisme dari London School of Economics, berkata, “Ini adalah langkah pembangunan yang paling cepat dalam abad ini.”
Kebangkitan ekonomi Cina ini adalah suatu fenomena yang sangat penting, harus ada buku yang memotret fenomena ini. Pada tahun 2005 yang baru lalu, Penerbit Scribner menerbitkan buku
China, Inc.: How the Rise of the Next Superpower Challenges America and the World karya Ted C. Fishman. Buku yang tebalnya 342 halaman ini menggambarkan bangunnya Raksasa Merah dan—dalam kecepatan yang mengejutkan—mengubah dirinya menjadi superpower berikutnya. Melalui bukunya ini, Fishman akan mengubah pandangan kita tidak hanya tentang posisi Cina di dunia, tetapi juga posisi AS yang selama ini menjadi adidaya tunggal.
Dalam
China, Inc., Fishman menceritakan bagaimana negara besar yang dulunya terkungkung oleh kemiskinan dan ideologi komunisme itu menjelma pusat kekuatan kapitalisme global. Cina kini tumbuh tiga kali lebih cepat daripada AS. Hampir semua perusahaan besar dunia sekarang menjalankan operasi skala besar di Cina. Pertumbuhan Cina sebagai superpower industri ini telah mengakibatkan pergeseran besar dalam tata ekonomi global dan memengaruhi semua orang.
Menurut Fishman, dunia akan sangat terpengaruh oleh aktivitas ekonomi di Cina karena bisa jadi perusahaan-perusahaan akan meninggalkan Amerika, Eropa, dan tempat-tempat lain di dunia lalu beralih ke Cina. Ekonomi dunia juga akan terganggu jika Cina terus-menerus mampu memproduksi apa pun—komputer, mobil, jumbo jet, dan obat-obatan—dengan biaya yang lebih murah.
Untuk menulis buku ini, Fishman yang mantan wartawan itu mengunjungi langsung pabrik-pabrik, pasar, jalan-jalan, dan pertokoan di Cina tempat berlangsungnya semua aktivitas kapitalisme. Dari eksplorasinya, Fishman semakin yakin bahwa basis utama pertumbuhan ekonomi Cina yang pesat dalam kurun waktu 25 tahun ini adalah jumlah penduduknya yang sangat besar—mencapai 1,5 miliar orang. Di masa lalu, jumlah ini dipandang sebagai masalah. Sekarang seperlima penduduk dunia itu dipandang sebagai pasar yang paling besar: sebagai konsumen Citibank, Disney, Nokia, GE, Toyota, Microsoft, dan sebagainya.
Tidak seperti asumsi kebanyakan orang, Fishman menolak pernyataan bahwa Cina adalah tempat tenaga kerja termurah di dunia. Menurutnya, masih banyak negara-negara yang lebih miskin di Asia Tenggara atau Afrika yang para buruhnya bisa dibayar lebih murah. Namun, Fishman menyatakan bahwa Cina adalah lokasi industri yang paling disenangi di dunia karena wilayahnya yang relatif stabil dan menawarkan tenaga kerja industri yang dapat diandalkan, patuh, dan terampil. Semua itu membuat orang-orang Cina menjadi sumber daya alamiah yang sangat besar di muka bumi.
Buku terbaru yang memotret kebangkitan eknomi Cina adalah
China Shakes The World: The Rise of a Hungry Nation karya James Kynge. James Kynge telah menjadi wartawan di Asia selama 19 tahun. Sempat menjabat sebagai Kepala Biro Cina untuk
Financial Times, sekarang ia menjadi Kepala Perwakilan Pearson Group di Cina.
Buku
China Shakes The World yang tebalnya 304 halaman ini tidak hanya mengungkapkan kebangkitan ekonomi Cina yang luar biasa, tetapi juga masa depan dunia akibat fenomena itu. Kynge mengatakan bahwa meskipun Cina telah menjadi kekuatan yang nyata di dunia ini, kebangkitannya sebenarnya baru saja dimulai. Dalam dekade yang akan datang kebutuhan Cina yang luar biasa akan bahan baku, energi, dan makanan akan mengubah perdagangan dunia, aliran modal, dan politik.
Dalam buku yang diterbitkan oleh Orion ini, Kynge juga menunjukkan kelemahan Cina—polusi lingkungannya, krisis kepercayaan sosial, sistem finansialnya yang lemah, dan institusi pemerintahannya yang goyah. Kelemahan ini berisiko pada kegagalan ekonomi Cina. Karena banyak perusahaan multinasional berinvestasi di Cina, kegagalan ekonomi Cina atau sekadar benturan ekonomi sesaat akibat ketergesa-gesaannya menuju modernitas akan dirasakan di seluruh dunia.
Ted C. Fishman dan James Kynge menunjukkan kepada kita potret Cina menuju superpower. Buku-buku tentang kebangkitan ekonomi Cina yang mereka tulis menyadarkan kita bahwa Sang Naga telah bangkit dan membuat kita waspada akan semburan apinya